Sampai jumpa di persimpangan..

Kemana Setelah Kuliah?

Sudah lama ngga nulis bah. Oke kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana saya mendapatkan pekerjaan setelah lulus.

Bekerja setelah lulus adalah salahsatu pilihan. Setelah lulus tentu ada yang mau terus lanjut S2, ada juga yang memilih ikut program-program pengabdian masyarakat, menjalankan usaha, atau ada memang yang benar-benar ingin menikmati waktu menganggur dari kegiatan rutin kuliah.

Setelah lulus, pastikan kamu tahu mana jalan yang akan kamu pilih. Kondisi ekonomi dan faktor usia biasanya menjadi parameter utama dalam menentukan arah. Bagi saya yang berekonomi pas-pasan dan usia yang sudah lebih dari 22 tahun bekerja adalah jalan terbaik yang harus saya tempuh.

Mengapa kamu harus tahu dan menginsyafi jalan yang akan kalian tempuh setelah lulus, karena hal itu yang akan melecut jiwa kamu melewati jalan yang telah kamu pilih tadi. Orang yang telah sadar akan pilihan jalannya akan fokus dan kuat mengambil keputusan. Berbeda dengan yang belum punya pilihan jelas dan cenderung ikutin arus (lulus diwaktu yang tepat dibanding lulus tepat waktu sangat benar adanya). Contoh sederhananya ketika dihadapkan pada sebuah pilihan. Saya pernah ditawari program Management Trainee salahsatu perusahaan ritel ternama di Indonesia, sebenarnya niat saya daftar ya hanya sekedar iseng memang. Karena sifatnya iseng, maka saya tak mengambil kesempatan itu. Kalau dipikir-pikir, iseng-iseng seperti itu ngga penting loh ya, bisa jadi malah hal seperti ini yang bikin kesempatan orang lain yang sudah lebih siap justru hilang.

Bagi kamu yang sudah menentukan jalan bekerja, beginilah kira-kira sharing saya. Poin pertama, Yakinlah kamu akan segera mendapatkan pekerjaan. Jika tekad sudah bulat kamu akan 100% mengejar pekerjaan yang kamu inginkan. Saingan kita dalam seleksi adakalanya memang orang-orang yang belum 100%. Jika kamu serius, kamu akan mendapatkannya.

Poin kedua, jangan cuma melihat nama besar sebuah perusahaan. Ada perusahaan yang familiar namun ternyata kurang menghargai karyawannya (gaji dan tuntutan pekerjaannya tidak seimbang). Atau sebaliknya, perusahaan yang terlanjur besar dan kita cenderung tidak dikembangkan karena sudah lancar oleh sistem, sehingga kita masuk sekedar menikmati hasil saja dengan santai-santai.

Poin ketiga, Dua hal yang dinilai oleh divisi HR suatu perusahaan, personality dan kompetensi. Kompetensi itu sangat penting, personality tinggal mencari yang cocok. Seleksi perusahaan biasanya melibatkan minimal 3 kali tes, psikotes (tertulis dan atau interview HR), interview user, dan interview direksi. Tiga hal ini masing-masing menilai personality di psikotes dan kompetensi di user. Biasanya interview direksi lebih melihat komitemen. Perusahaan mencari orang dengan personality paling cocok, bukan yang paling baik. Mungkin kamu akan ditolak beberapa perusahaan pada tahap psikotes karena posisi yang kamu masuki memang tidak match dengan kepribadian kamu. Pasti ada pikiran ketika kamu sudah mencoba beberapa kali dan terus ditolak, apakah saya tipe pribadi yang kurang dibutuhkan di perusahaan? Tidak, kamu hanya belum bertemu dengan posisi yang sesuai. Dan kamu harus sadar diri dengan personality kamu, jika memang kamu merasa ngga cocok ya ngga usah dipaksakan lagi. Kompetensi bukan cuma sertifikasi atas piagam yang kita masukkan ke CV, tapi di interview user hal ini akan digali, kamu harus siap dan perform di situ. Jika lupa, belajar lagilah.

Poin terakhir dari saya, jangan menyerah. Ditolak beberapa perusahaan di awal adalah hal bagus. Kamu harus mencari tahu apa penyebab kamu gagal. Biasanya wawancara pertama akan gagal, saya mengalaminya di interview Maybank. Saya terlalu gugup dan tanpa persiapan. Akhirnya saya mengambil pelajaran, akhirnya di beberapa interview lanjutan perusahaan lain saya bisa lolos karena persiapan lebih baik.

Kembali saya ingatkan, bekerja adalah pilihan diantara banyak pilihan jalan yang kamu hadapi setelah lulus. Yakinkan diri kamu perihal jalan mana yang akan diambil dan pegang teguh pilihan itu. Jangan sampai kamu tak punya arah yang jelas setelah lulus, karena biasanya kegagalan berasal dari keragu-raguan dan terlalu ikut arus.

Capturing supermoon syawal 2014. 

Di sosial media banyak yang bilang tadi malem ada supermoon. Wah saya jadi tertarik mengabadikannya. Mumpung ada kamera semi-pro kodak tahun 2008 punya kakak saya, saya coba ambil gambarnya. Lokasi ada di depan rumah dengan kondisi ada kabel jaringan listrik dan pohon-pohon kelapa. 

Jalan-jalan keluarga ke rumah Pakde yang rumahnya di lingkungan Waduk Wadaslintang, Padureso, Kebumen. Kebetulan nemu stasiun meteorologi di sana yang kondisinya sepertinya kurang terawat. Papan namanya saja ditutup cat.

Jalan-jalan keluarga di Jembangan - Bendung Pejengkolan, Prembun, Kebumen. 

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين
Mohon maaf lahir dan batin ya blogger tumblr. :)

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين

Mohon maaf lahir dan batin ya blogger tumblr. :)

Kaleidoskop Pilpres 2014

Saya membuat catatan mengenai bagaimana jalannya pilpres 2014 ini dari awal sebagai catatan saya pribadi. Mungkin tidak berimbang, ah sudahlah kumaha aing weh.

Bagi saya pemilu presiden langsung menjadi tajuk rencana pasca pemilu legislatif. 3 besar pemenang pileg terlihat punya potensi mengajukan masing-masing kandidatnya, plus beberapa parpol islam yang perolehan suaranya cukup menggembirakan memungkinkan adanya poros islam mengajukan satu kandidat. Berita Terkait 

Jokowi yang sejak sebelum legislatif memuncaki sebagian besar survey elektabilitas juga berhasil menaklukkan hati Ibu Nyai banteng merah. Bagi saya fenomena ini cukup menarik karena selanjutnya saya menemukan diri Jokowi ini bagai seorang Ken Arok yang baru saja menaklukkan Dedes dan membinasakan Tunggul Ametung. Mega tak bisa mengelak jika pesona Jokowi jauh lebih dicintai rakyat ketimbang dirinya yang sudah terlalu uzur.

Sosok Prabowo begitu dominan dalam tubuh Gerindra. Bahkan nyawa Gerindra bagi saya cuma Prabowo. Seperti era SBY di demokrat 2004 dulu, Prabowo tak disangsikan lagi melaju menjadi kandidat dari Gerindra tanpa tanding. Namun bagi saya Gerindra masih terlalu canggung menjadi eksekutif sendirian, walaupun pada level kepala daerah atau walikota sudah terbukti bagus dengan adanya Ridwan Kamil dan Ahok, saya telah memprediksikan kalau Gerindra tentu akan membuka diri selebar-lebarnya bagi koalisi yang akan masuk.

Aburizal Bakrie sebagai ketum Golkar berencana maju, namun rupanya Golkar dibawah Ical kurang solid. Figur Ical terlalu banyak kasus untuk diusung sebagai capres, walhasil saya pun waktu itu memang sudah meng-cut Ical dari bursa. Terbukti sampai batas akhir deklarasi tak ada nama Ical di bursa calon presiden.

Yang menarik partai pemenang pemilu edisi sebelumnya ternyata gagal total di pemilu kali ini. Ya, Demokrat memang terlalu bergantung sama SBY. Ketika SBY tak lagi memegang jabatan formal di Demokrat maka hancur sudah partai ini. Anehnya dengan suara minim, mereka tetap ngotot mengadakan konvensi terbuka capres. Sayang sekali, pemenang konvensi Pak Dahlan Iskan tetap tak mampu melaju karena posisi Demokrat yang sudah tak punya suara kuat.

Tentu harapan besar saya sebagai orang islam akan muncul poros tengah dalam hal ini islam. Digalang oleh PKS, PKB, dan PAN harusnya koalisi ini bisa kuat. PKS yang menggaet kaum tarbiyah muda nan militan, PKB melalui basis massa NU yang mengakar, dan PAN basis Muhammadiyah. Namun melihat ketidakakuran masing-masing basis massa, seperti sebelum-sebelumnya di situasi yang kondusif mereka tak akan bisa bersama. Jadilah saya juga tak terlalu yakin poros tengah akan terbentuk.

Akhirnya memang telah terbaca ketika pengurus PKB menyatakan diri bergabung ke koalisi PDIP. Jusuf Kalla dan Mahfud MD diajukannya jadi Cawapres Jokowi. Saya sangat terkejut ketika Jokowi rupanya lebih memilih Pak JK sebagai cawapresnya. Menurut saya, Pak Mahfud lebih populer dan baru ketimbang JK. Hal ini pun mengakibatkan Pak Mahfud MD menurut pandangan saya ‘sakit hati’ sehingga akhirnya justru menyebrang ke kubu Prabowo.

Selepas PKB yang merapat ke Koalisi PDIP, PAN menjadi terdepan merapat ke koalisi Gerindra. Pak Hatta Radjasa pun diangkat menjadi calon wakil presiden, alih-alih menunggu tawar menawar sosok cawapres dengan PKS yakni Ahmad Heryawan atau Anis Matta. Bagi saya penunjukkan Hatta juga mengejutkan. Seperti kita ketahui, HR adalah besan dari SBY, Prabowo terkenal tidak akur dengan SBY. Selain itu kasus HAM yang menyangkut putranya Rasyid Radjasa membuat saya sendiri geram.

Golkar pada akhirnya memang tak mengajukan capres sama sekali. Menurut saya dialog politik dengan partai lain terhenti lantaran calon yang diusung adalah Ical yang sudah jatuh elektabilitasnya. Pada titik ini, sudah tidak mungkin Golkar terus maju. Langkah yang diambil kemudian adalah mencari tebengan koalisi. Agak konyol memang manuvernya, seperti kita saksikan sendiri, selepas akrab-akrab di pasar dan menyatakan dukungan secara verbal terhadap Jokowi, Ical justru berbalik membawa Golkar ke koalisi Gerindra. Bagi saya ini indikasi adanya ketidakpuasan tawar-menawar kursi di koalisi.

Akhirnya, poros islam pun cuma sekedar impian. PPP masuk ke Prabowo, PKS juga akhirnya merapat ke Prabowo. Tidak ada manuver aneh dan sudah diprediksi. Namun masuknya PKS belakangan menunjukkan partai ini benar-benar menginginkan posisi di kabinet nanti karena tentu deal-deal-an antara Prabowo dan PKS terkait jumlah kursi benar-benar alot.

Demokrat ujung-ujungnya memang tak jelas. Peserta konvensi bubar dengan Dahlan Iskan dan Anis Baswedan masuk ke kubu Jokowi-JK dan fraksinya di DPR pergi ke Prabowo – Hatta. Namun sampai akhirnya pemungutan suara dilaksanakan, tidak ada statement resmi dari Demokrat bergabung ke koalisi. Nampaknya partai ini pun termasuk partai yang tak betah jadi oposisi dengan tak mengambil resiko kalah.

Partai kecil seperti Nasdem dan Hanura pun merapat ke Jokowi. Namun Harry Tanoe yang tadinya mesra bersama Wiranto di Hanura merasa ‘dibohongi’ karena usahanya selama ini menggunakan MNC Group sebagai media kampanye tak menghasilkan hasil yang seberapa.

Pada akhirnya memang hanya ada dua pasang kandidat capres - cawapres. Jokowi - JK diusung PDIP – PKB – Hanura – Nasdem dan Prabowo – Hatta didukung Gerindra – Hanura – PKS – PPP – PAN – Golkar. Menariknya pilpres kali ini juga bukan tentang parpol-parpol saja yang bekerja, melainkan media-media massa juga. Tercatat beberapa media yang dimiliki beberapa elite politik  ikut bertarung di pilpres kali ini. Misalnya saja Metro TV yang dimiliki Surya Paloh menjadi corong Jokowi – JK, TV One yang dimiliki Bakrie menjadi corong Prabowo – Hatta, pun dengan MNC Group yang dimiliki Harry Tanoe yang merapat ke kubu Prabowo. Selain itu, di media sosial militansi Jokowi Lover berhadapan dengan militansi Tarbiyah PKS dan militansi kader Gerindra. Menjamur juga media online seperti VOA-Islam, suara.com, merdeka.com, dsb yang jelas bertendensi ke kubu tertentu disamping media online terpercaya seperti republika online, kompas.com, dan tempo.co.

Secara umum tak terlalu berbeda ide dan gagasan masing-masing kubu yang tertuang dalam visi misi. Prabowo lebih menekankan kembalikan kedaulatan, sedangkan Jokowi menekankan perbaikan sistem melalui revolusi mental. Yang lebih menarik adalah perang pensosokan melalui lempar isu miring dari masing-masing kubu. Berikut beberapa isu dan counter isu yang dilakukan pada momen yang hampir bersamaan

  1. Jokowi antek asing, aseng, dan yahudi.  Dibalas dengan Prabowo pelanggar HAM pada kasus 1998,
  2. Jokowi kristen, dibalas dengan Prabowo duda,
  3. Jokowi pencitraan palsu, dibalas dengan Prabowo bertahun-tahun membayar TV untuk promosi,
  4. Jokowi tak bisa wudhu dan sholatnya kacau, dibalas dengan Hashim (adik Prabowo) pro barat, dsb.

Yang melakukan serangan-serangan ini tentu bukan elite-elitenya, melainkan media massa tak berbadan hukum dan akar-akar rumputnya. Postingan dan komenter saling serang memang menjadi pemandangan yang biasa di linimasa media sosial. Beberapa forum opini pun menjadi arena adu argumen tentang baik-buruknya seorang capres. Misalnya saja kompasiana.com dan detikforum.

Pada waktu sehari setelah debat presiden juga tiba-tiba muncul opini-opini terkait gagasan. Sempat muncul anekdot-anekdot yang cukup lama menempel dan menjadi perdebatan. Jokowi presiden kartu misal, atau Prabowo yang ‘bochor-bochor’. Diakhir-akhir menjadi marak ‘Surat Terbuka’ pula di forum opini sebagai bahan kampanye.

Adanya gelaran Piala Dunia rupanya cukup menurunkan tensi di beberapa kali kesempatan. Begitu juga konflik Gaza pada bagian akhir masa kampanye menjadi cukup menyatukan beberapa pihak walau tak semua. Namun nampaknya momen puasa tetap tidak berpengaruh terhadap perang medsos.

Harapan kita setelah masa tenang menjadi benar-benar tenang rupanya tidak serta merta terjadi. Walaupun atribut kampanye sudah dibereskan, media sosial masih gencar saling usik. Sampai pada hari pemilihan, ketika itu Semifinal Brazil lawan Jerman yang berlangsung pada tanggal 9 dini hari cukup menjadi hiburan karena skor yang mencolok yakni 7-1. Namun hal ini segera luntur lagi menjadi masalah baru.

Pada sore hari tanggal 9 Juli, masing-masing kubu menyatakan klaim kemenangan berdasarkan Quick Count (QC). Perolehan suara QC baik kubu yang memenangkan Jokowi ataupun Prabowo memang memiliki selisih yang sedikit-sedikit. Antara 52-48 atau 48-52. Saya sendiri mencium ada yang tidak jujur pada diri sendiri. Bagi saya Quick Count adalah buah dari ilmu statistika yang berkembang jauh sejak jaman dahulu. Meremehkan hasil Quick Count bagi saya tidak menghargai ilmu pengetahuan. Jika memang hasilnya demikian, pastilah ada yang bermain curang dan tidak jujur. Apalagi diperkuat bahwa masing-masing kubu mengambil lembaga survey dan quick count yang tendensius, misalkan TVone sebagai corongnya mengambil Lembaga Survey Nasional dan Puskaptis sebagai referensi, sedangkan MetroTV sebagai corong Jokowi menggunakan Lembagai Survey Indonesia dan SMRC yang sejak awal memang mejadi langganan survey kubu mereka. Walaupun kubu Jokowi menjadi lebih realistis karena beberapa lembaga seperti Litbang Kompas dan RRI pun memenangkan mereka. Hasilnya saling klaim ini membuat masyarakat bingung dan resah. Bagaimana jika ternyata massa kedua kubu yang tengah merayakan kemenangan versi QC tersebut bertemu di jalan, tentu bisa timbul kericuhan. Beruntung SBY masih berkehendak turun dari jabatan presiden secara damai, beliau kemudian bertemu kedua capres dan memberikan supervisinya untuk bersabar menunggu pengumuman Real Count (RC) KPU tanggal 22 Juli.

Harapan kondisi sosial media yang mereda kemudian justru makin memuncak. Akar rumput saling beber kesalahan metode dari masing-masing lembaga survey quick count di media sosial. Namun begitu pun tetap tidak ada yang enggan mengakui kesalahan, bahkan lembaga survey yang memenangkan Jokowi justru memberi intimidasi terhadap KPU bahwa hasil RC harus sama dengan QC pihaknya. Hal ini diperparah oleh pernyataan kubu Jokowi yang mengatakan ‘mereka hanya kalah oleh kecurangan’. Seakan-akan jika real count mereka kalah telah terjadi kecurangan. Begitu juga RRI yang kemudian dilaporkan ke Panwaslu oleh kubu Prabowo terkait aktivitas BUMN di pemilu ini.

Kemudian masing-masing kubu menyerukan untuk mengawal rekapitulasi pemilu dari kecurangan. KPU mencoba transparan terhadap rekapitulasi dengan menunggah formulir C1 di website resmi KPU. Media sosial kembali heboh setelah ditemukan banyak formulir yang tidak bertandatangan. Berdasarkan release KPU ternyata memang formulir C1 ini bukanlah formulir utama atau sekedar salinan. Jadi keraguan akan transparansi menjadi dipertanyakan.

Yang kembali membuat resah warga media sosial ataupun penonton TV adalah adanya dramatisasi Real Count (RC) dari masing-masing media yang mana hal ini memainkan emosi masyarakat. Bagaimana tidak, melihat QC saja mereka bingung, ini dari masing-masing media hanya memberitakan kemenangan lokal masing-masing daerah saja. Seakan-akan masyarakat pendukung terus diyakinkan bahwa calon presidennya lah pemenang sesuai RC.

Tak lupa juga mind game dan semacamnya yang dilakukan oleh oknum simpatisan dan akar rumput. Hal ini bagi saya menyesatkan. Pada situasi man to man duel semacam presiden dua kandidat ini, menduga-duga dan menyampaikan teori mind twist seperti ini sama saja kita sedang memainkan mind game itu sendiri. Jika pendukung Prabowo mengatakan kubu Jokowi sengaja membuat plot QC mereka menang hanya untuk membentuk opini awal masyarakat kemudian diam-diam kubu Jokowi melakukan proyek kecurangan untuk merekayasa hasil akhir KPU, maka jangan-jangan kubu Prabowo sendirilah yang sedang memposisikan diri mereka seakan-akan jika kalah maka mereka kalah karena kecurangan. Masalahnya mereka juga mendeklarasikan kemenangan hasil QC lembaga yang juga memenangkan mereka. Hal ini mengakibatkan kebingungan di masyarakat, pada siapa rakyat harus percaya?

Final piala dunia hanya menjadi hiburan sebentar dari hingar-bingar pemilu. Untungnya semakin akhir mendekati pengumuman tanggal 22, seiring selesainya rekapitulasi di tingkat daerah, media-media sudah semakin berkurang melakukan dramatisasi karena sumber data yang mereka ambil sudah seharusnya mengerucut ke hasil RC total. Tentu akan beresiko jika sebuah media masih menampilkan hasil yang inheren dengan media lain. Dari sini kubu Jokowi semakin percaya diri memenangkan pemilu. Sedangkan kubu Prabowo mengalihkan fokus terhadap data-data kecurangan yang terjadi di lapangan.

Seperti pemilu sebelum-sebelumnya, adalah wajar jika kandidat yang dinyatakan kalah tidak akan menerima hasil, untuk kemudian memaksakan keberatan ke MK. Awalnya saya akan menduga demikian, kubu Prabowo tentu akan melayangkan gugatan ke MK. Yang terjadi ternyata lebih mencengangkan. Setelah beberapa hari sebelumnya beliau meminta KPU menunda rekapitulasi akibat adanya kecurangan hasilnya tidak digubris, pas tanggal 22 Juli siang hari kira-kira pada posisi rekapitulasi suara menyisakan 4 provinsi lagi yang nampaknya Prabowo sudah pasti kalah, Prabowo justru ‘menarik diri dari poses’ atau dalam kata lain Walk Out (WO) atau mengundurkan diri dari Pilpres. Seketika itu yang tercatat rupiah melemah tajam dan IHSG juga jatuh.

Alasan yang diajukan pun rupanya memang terkait KPU yang menurutnya tidak adil, kemudian terdapat kecurangan yang sifatnya sistematis, dsb. Beliau merasa perlu mengembalikan amanat rakyat karena demokrasi telah dinodai. Pernyataan beliau sebelumnya yang mengatakan siap kalah secara bersyarat dengan keterangan ‘menerima kekalahan secara demokratis dan jujur, bukan kecurangan’. Selain di pasar global tercatat beberapa kantor di Jakarta juga terpaksa memulangkan karyawannya lebih dahulu ke rumah karena dikhawatirkan akan ada gelombang aksi massa.

Namun akhirnya kekhawatiran itu untungnya tidak terjadi. Kebijaksanaan masing-masing kandidat untuk memberi statement tetap tenang di rumah bagi para pendukung, juga keputusan untuk memantau hasil rekapitulasi dari masing-masing rumah koalisi cukup mengurangi potensi pengumpulan massa dan gesekan massa. Sampai pengumuman resmi pun tetap aman damai dan terkontrol. KPU mengumumkan bahwa Jokowi – JK resmi menjadi pemenang Pemilu Presiden 2014 untuk periode 2014-2019 mendatang.

image

(gambar dari fanpage : Joko Widodo)

Begitulah kiranya Pemilu Presiden tahun 2014 ini berlangsung. Menjadi catatan untuk saya terutama bagaimana dramatisnya ajang pencarian pemimpin Indonesia 5 tahun kedepan ini. Banyak pelajaran dapat dipetik untuk kita perbaiki di ajang demokrasi yang akan datang. Selanjutnya mari kita kawal presiden terpilih kita agar terus memberikan kebaikan-kebaikan bagi seluruh rakyat Indonesia. :)

tausendsunny:

fotojournalismus:

Day 4: Gaza death toll passes 100 as Israel continues assault | July 11, 2014

1. A ball of fire is seen following an early morning Israeli air strike on Rafah. (Said Khatib/AFP/Getty Images)

2. A Palestinian man looks at a house which was hit in an Israeli air strike. (Mohammed Salem/Reuters)

3. The destroyed house of the Palestinian Abu Lealla family following an Israeli airstrike in the north of Gaza City. (Mohammed Saber/EPA)

4. Mother of three-year-old Saher Abu Namous mourns during his funeral after he was killed in an explosion in the east of Jabaliya refugee camp. (Mohammed Saber/EPA)

5. A chicken walks amidst the rubble of a destroyed building following an Israeli air strike in Gaza City. (Mohammed Abed/AFP/Getty Images)

6. Smoke and debris from an Israeli explosion rise above the northern Gaza Strip. (Finbarr O’Reilly/Reuters)

7. Palestinians look at the remains of a missile which was fired by an Israeli aircraft on a street in Deir El-Balah in the central Gaza Strip. (Ashraf Amrah/Reuters)

8. Members of the Abu Lealla family search the rubble of their destroyed home after an Israeli airstrike north of Gaza City. (Wissam Nassar for The New York Times)

9. A Palestinian woman reacts in front of her son’s boat, which was damaged in a fire that started following an Israeli naval strike, at the seaport of Gaza City. (Mohammed Salem/Reuters)

10. Palestinians look the damage of a destroyed house where five members of the Ghannam family were killed in an Israeli missile strike early morning in Rafah refugee camp. (Khalil Hamra/AP)

(Sources: 1, 2, 3, 4, 5 | Naming the dead)

:”(

There is no more about who, its time to stop. :’(

(via gerypratama)

Kacamata Media

Kompasiana udah jadi medan perang aja tuh. Orang dulu banyak baca opini bagus di situ. Sejak pemilu jadi arena akar rumput saling serang. Hati-hati dengan kompasiana lho. Di sana orang bebas bikin opini, bukan news. Nah kan kualitas opini di sana ga bisa dikontrol, bebas post. Tapi kompasiana cuma satu contoh saja, banyak media online baik berita atau forum opini yang jadi salah kaprah kita gunakan jadi sumber yang valid buat mengerti lebih melek berita.

Oke, bener sih media kadang bikin news ya apa mau bos, dicut, dicrop, dll. Opini bisa melengkapi. Tapi, kita juga harus selektif. Kalau opini di media cetak, okelah mereka udah masuk editor, pemred, dsb. Mereka mampu mempertanggungjawabkan konten. Harus baca! Juga karena kita bayar buat baca. Kita bisa meminta koreksi kalau memang ada yang luput (ex : kasus transaksi ARB dan Bowo di tempo cetak). Nah kalau opini yang bebasa dibaca dan tidak masuk dewan redaksi dan editor? Bisa-bisa hanya arena adu domba antar golongan. 

Mungkin karena jaman makin maju, internet menjadi minyak tanah api kebebasan pers. Bermaksud bikin api unggun untuk menerangi kehidupan, malah dapetnya kebakaran membabi buta. Karena banyak dahan-ranting kering mudah terbakar berserakan di mana-mana lupa dibersihkan.

Banyak ranting kering bahan bakar api tadi dalam bentuk situs berita online, forum opini, atau website sok-sokan membongkar konspirasi. Bahkan terkadang ranting kering sengaja disebar oleh oknum berkepentingan sesuai warna pesanan, ya merah, ya biru, ya jingga, ya hijau. 

Lalu kita kudu gimana? Sekarang api sudah membara, dan kalo dimatikan itu jadi gelap gulita? Kuncinya bikin kacamata. Kacamata yang bisa memfilter mana spektrum mejikuhibiniu dari berita dan opini.

Kita pelajari dulu masing-masing spektrum berita yang mengemban kepentingan. Ketahuan kok mana kayu dan ranting yang sengaja disebar oknum tertentu dari konsistensi nyalanya. Kita tandai saja di kacamata kita.

Saya percaya, tidak ada orang sempurna di dunia ini. Pada sesosok figur yang baik dan terkenal, pastilah terdapat kontroversi. Dan media yang selalu menonjolkan kebaikan seseorang dan memberi kejelekan tokoh pesaing tentulah itu yang kita perlu waspadai. Waspada bukan berarti antipati, terkadang kita boleh kok percaya.

Kemudian pencitraan positif (peliputan prestasi dan inspirasi) terkadang baik juga untuk memberi kesan percaya diri pada masyarakat, menghapus rasa pesimis warganya. Ya hanya lihat saja, mana yang kiranya palsu mana yang kiranya tulus. Karena baca pencitraan yang berlebihan kadang bikin muak atau malah fanatik.

Jika sudah tahu, oh ini nyalanya merah, ini nyalany biru, kita bisa deh bikin filter di kacamata kita. Hingga pada akhirnya api unggun dan kebakaran hanya ada di benak kita saja. Walaupun kebakaran di mana-mana, kita masih bisa lihat api unggun yang menghangatkan dan menerangkan. Karena dasarnya cahaya itu putih, kegelapan itu hitam. Kita dapat penerangan yang cukup tanpa harus silau oleh warna-warni.

Lalu gimana dengan teman-teman yang kerjaannya share provokasi? Saya punya analogi, bahwa orang-orang yang demen share berita yang provokatif mereka bisa dianggap seorang yang hobi selfie. Begini, jika anda suka seseorang (gebetan), tentu anda punya gairah untuk paling tidak kepo. Nah orang selfie tadi menurut saya adalah orang yang cari perhatian (orang minta dikepoin). Kalo memang seseorang itu cakep, ngga usah selfie deh tentu kita rela ngepoin. Gitu juga kita, kalo kita emang cinta sama bangsa kita, kita akan cari tau sendiri kok perkembangan bangsa kita, negara kita. Bahkan ngga perlu nunjukin kepedulian kita sama bangsa kita dengan share berita yang belum jelas nya. 

Kembali ke diri kita, kurangi ‘berkomentar’ berita dg judul provokatif lewat share. Ga usah ikut nyekokin. Lo ngefans sama orang boleh, tapi jangan jelek-jelekin idola lain pake berita murahan. Lo ngefans dan lo share aktivitas positifnya idola elo itu baru joss. Memotivasi utk ikut jadi positif. Cuma tetep jangan share pencitraan palsu.

Selamat menikmati ingar bingarnya pesta rakyat kawan!

Abu-abu

Abu abu bukan kelabu
Abu-abu hari ini sayang
Pesta demokrasi terinduksi
Ingar-bingarnya tak bertepi

Abu-abu pantang disebut putih
Haram disebut hitam
Bersama merah ia laksana susu yang kusam
Bersama biru ia hitam yang memudar

Abu-abu adalah situasi ditengah warna-warni
Adalah peperangan dalam keramaian
bukan apa-apa dalam kehampaan
Suatu keadilan pun bukan.

Kita berwarna hijau tua, kuning, merah, biru muda
marun, jingga, nila langsa.
Seperti biasa persaingan menuju singgasana
Bertarung memenangkan persaingan

Sayangnya pemilu bukan sistem gugur
Ideologi yang tidak menang bisa saja merangsek
Di barisan-barisan pemenang, ambil bagian
Tak lain hanya mau bagian kekuasaan

Tinggal dua kubu bersaing
Seperti pertandingan final sepak bola saja
Ah tidak, tidak sesportif itu
Tidak senantiasa yang mencetak gol lebih banyak akan menang

Abu-abu, mereka bercampur dalam bak lapangan
Yang tadinya hanya hitam-putih kini begitu
Tak tau mana yang lawan mana kawan
Terkadang musuh kawan juga
Terkadang teman tak mau bagi kekuasaan

Abu-abu, begitulah gerangan di dasar gelas
Rakyat kecil berpesta informasi hari ini
Informasi yang telah terbeli, informasi yang telah diracun
Masing-masing membawakan hidangan buat kawan

Ada yang bersikap mandiri, 
Membikin minuman tak membeli
Tapi bukan sumur kita telah terbeli juga?
Akhirnya sama saja

Kita mabuk sayang, bercinta tiada rasa..