Sampai jumpa di persimpangan..

NANGGAP JOKOWI

Perhelatan pemilu 2014 sudah dimulai. Ramai-ramai kampanye sudah dilakukan jauh-jauh sebelum ini. Ya sejak era sosial media berkembang dengan pesat, mudahnya akses informasi membawa dampak besar bagi pembentukan citra seseorang. Hal ini tak luput dari sebagian besar politisi-politisi negara ini. Kenyataannya hal ini tidak melanggar kaidah pemilu.

Jokowi merupakan sosok paling nyata begitu kuatnya peran media bagi pemilu di era saat ini. Citranya meroket oleh pemberitaan-pemberitaan positif yang dilakukan oleh media. Mulai dari aktivitas blusukan, atau aktivitas merakyatnya sebagai pemimpin baik di Solo atau di Jakarta. Padahal siapakah sih Jokowi? Wong cuma pengusaha kayu, dan karir politiknya cuma Walikota Solo. Saya tidak ingin menduga-duga adanya mafia dalam politik pencitraan Jokowi karena faktanya Jokowi bukan tokoh pemilik media massa layaknya Surya Paloh, Hary Tanoe, Bakrie, Chairul Tanjung, atau Dahlan Iskan.

Saya juga tidak akan mengatakan Jokowi polos tanpa dosa, Jokowi hanya jadi alat PDIP, atau Jokowi tunduk dengan Megawati. Menurut saya, Jokowi adalah orang yang cerdas dan cerdik. Dibalik jawaban-jawaban yang tatas (singkat dan jelas) atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan media, dibalik canda tawa yang muncul sesantai aliran mata air, dia memiliki ilmu berbicara yang tinggi. Ketenangannya berbicara, menyampaikan pendapat dan gagasan merupakan buah olah rasa dan teknik tinggi. Pengetahuannya membaca ritme gerak progresif karirnya begitu nyeni. Tahapannya menjadi Walikota Solo kemudian Gubernur DKI murni tak hanya cerita Cinderella atau sudra jadi raja. Jokowi tahu kapan diam, kapan menyerang. Saya rasa asosiasi tokoh Arok dalam Arok Dedes milik Pramoedya sangat cocok menggambarkan dirinya.

Tentu Ken Arok versi Pramoedya bukan sekedar Arok yang membunuh Tunggul Ametung kemudian merebut Ken Dedes dan keris Empu Gandring yang sakti mandraguna membunuh 7 turunan berikutnya. Arok Dedes versi Pramoedya menceritakan cerita politik seorang Arok si sudra yang menjelma jadi brahmana kemudian mengalahkan keangkaraan kaum ksatria memimpin negara. Kudeta politik terdahulu di era kerajaan Jawa. Jalan berliku penuh intrik dilalui Arok untuk menjaga tangannya tetap bersih dalam berpolitik untuk mencapai tujuannya.

Ditengah carut-marutnya pemerintahan Kediri waktu itu anggaplah mirip situasi negara kita. Negara aman, namun tergerogoti oleh korupsi-korupsi dan ketamakan pemimpinnya. Aman dari krisis global bukan berarti lepas dari ketergantungan bangsa lain. Seorang anak muda memimpin pemberontakan terhadap Tumapel, namanya masih samar-samar. Namun kondang atas progresivitas pemberontakannya, sebutlah namanya Ken Arok. Ken Arok dicintai oleh golongan tertindas karena merakyat, kepolosannya menumpas angkara yang juga dilakukan Tunggul Ametung terhadap rakyat Tumapel. Tidak, Ken Arok tidak melakukannya dengan kasar, Ken Arok menaklukkan Tumapel dengan elegan, penuh strategi, tidak dengan pemberontakan membabi-buta. Karena jika Tumapel chaos Kediri takkan tinggal diam, dan kekuatan Kediri tidaklah mudah dikalahkan. Tarik ulur, muncul tenggelam, mengacaukan stabilitas Tumapel tanpa mengundang kecurigaan Kediri.

Ken Arok menemukan celah, Ken Dedes. Ken Dedes dibuatnya terpesona. Ken Dedes yang seorang Brahmani telah dikawini Tunggul Ametung, menjadi orang tak bisa dilawan Tunggul Ametung. Mudahnya Arok berganti menjadi patih pemimpin Tumapel. Kudeta secara halus dan penuh intrik untuk menumbangkan Ametung pun terjadi. Adu domba berbagai pihak oleh Arok berbuah manis.Politik pencitraan yang dilakukannya pun jitu. Ametung mati di tangan Kebo Ijo. Paginya Kebo Ijo dihukum tata negara Tumapel. Tak ada siapa-siapa lagi yang berkuasa atas Tumapel. Sudah seharusnya Tumapel berada di tangan Dedes.

Namun cinta berkata lain, Dedes hanyalah seorang perempuan. Perempuan begitu mudah disentuh lewat cinta. Dedes pun takluk pada Arok. Pernikahan Dedes dan Arok harus merelakan tahta Tumapel jatuh pada suami. Arok menjadi akuwu jagad Tumapel. Pada akhirnya Arok akan terus meroket tak tertandingi siapapun dalam perang, meski heroisme muncul di kalangan kawula. Arok adalah jelata yang berada dalam level berbeda. Dia merupakan ‘utusan’ dari kalangan penuh dendam.

Jokowi, tak lain adalah Arok. Arok yang telah menaklukkan PDIP dan hendak menaklukkan Indonesia. Jokowi adalah tokoh utama dari pentas ketoprak cerita Arok - Dedes belakangan ini. Jokowi kala itu telah menundukkan Bibit Waluyo di Jawa Tengah untuk kemudian mendapat simpati nasional, menjadi Gubernur Jakarta. Megawati pun kini yang benar-benar takluk. Politik trah Soekarno telah tumbang ditangannya. Apapun pendapat kita tentang Jokowi, coba bayangkan bahwa sesungguhnya yang telah dilakukan oleh Jokowi ialah kudeta. Kudeta tanpa mengotori tangan, tanpa pertumpahan darah di kalangan elit, dan kudeta yang membutakan mata kita bahwa kudeta ini bukan kudeta.

Babak Arok Dedes yang diperankan oleh Jokowi sudah berakhir. Hari ini kedepan menjadi hari di mana Arok meneruskan kudetanya pada Kediri. Jokowi akan segera nangkring di tahta tertinggi kerajaan jawa. Memimpin era baru Singosari di negara Indonesia. 

Sekali lagi, andai saja konstelasi yang terlalu maksa ini benar adanya, kita adalah makhluk yang menjadi korban akan kelihaian seorang Jokowi dalam berpolitik. Namun adanya tulisan ini pun rasanya takkan merubah nasib. Bagi saya, kerajaan jawa akan tetap hadir di bumi Indonesia. Jokowi akan terus melaju seperti kisah Arok menaklukkan Kediri dalam kitab Pararaton. Kerajaan baru bernama Singosari akan menjadi penanda era baru Indonesia meskipun semu. Karena periode Kerajaan Jawa masih jauh dari sini. Kerajaan islam masih jauh menanti beberapa kerajaan musnah. Karena kalaupun Singosari ini kelak hancur, masih ada Majapahit dan sebagainya.

Kawan, bukan hendak pesimis, namun beginilah bayangan saya tentang episode pemilu 2014 ini. Harapan akan terus menjadi harapan. Terlepas engkau mengecam ataupun mendukung pencapresan Jokowi, bagi saya Jokowi adalah sesuatu yang mustahil bagi kita untuk dihadang. Personanya yang lugu, pembawaannya yang sederhana, dan tutur kata yang sekenanya tapi mengena mungkin memang anugerah Tuhan. Baik engkau mengira Jokowi didukung oleh mafia-mafia ataupun engkau mengakui kemurnian  memang interest media terhadap orang unik ini; sayang seribu sayang orang ini memang unik bawaan lahir. Jika dibaliknya ada mafia maka mungkin mafia sedang bertemu dengan Arok. Jikalau Jokowi polos, maka dibalik kepolosannya, terdapat otak yang tajam mengatur peperangan politik, dan itu bagus. 

Nanggap kalau di jawa artinya menampilkan. Maksud judul Naggap Jokowi bukan berarti penulis ingin menanggapi, tapi penulis ingin menunjukkan bahwa pemilu ini memang hanya penampilan tunggal Jokowi.

I’m not asking, but would you like to? *you asking

Another ‘Cloud Dynamics’ quote.

I’m not asking, but would you like to? *you asking

Another ‘Cloud Dynamics’ quote.

At the begining of ‘Cloud Dynamics’ by Cotton and Anthes

At the begining of ‘Cloud Dynamics’ by Cotton and Anthes

Aku memilih sabar.

—Yak, Sabar, kamu aman malam ini. 

Ragu adalah candu
Yang buatku selalu kelu
Menghadapmu dari balik pintu
Memandang terpaku

Aku ingin bicara
Bekcengkrama tentang dunia
Membuatmu riang gembira
Dengan kata suka-suka

Aku ingin mengenalmu dalam aliran darah
Merasai denyut jantung mengalirkan hidup
Kehangatan yang kau rasai bersama terik matahari
Kedinginan yang kau rasai dalam lingkungan malam-malam sepoi

Aku ingin bercinta dalam benakmu
Memompa nama-namaku dalam gejolak asmara
Merasakan dinamika Adam-Hawa
Dalam setiap gerak ucapan atau diam

Aku ingin memelukmu
Memberikan kehangatan dan kesejukan damai
Menyatu dalam tatapan mata-mata
Tidur bersama kelembutan dan keharumanmu

Aku kembali, atau hanya ingin kembali
Aku datang lagi, atau hanya berkelebat bagai kelelawar
Aku masih meragu
Dalam rindu-rindu dunia fana.

20-02-2014

Mengapa Bintang Terbuang?

Part yang tak sesuai spek akan disingkirkan.

Kepindahan Juan Mata ke Manchester United tentu adalah sebuah kesedihan bagi fans Chelsea. Pemain terbaik klub dalam dua tahun ke belakang itu telah kehilangan tempat utama di starting XI dalam separuh musim ini. Hal ini terjadi semenjak Jose Mourinho kembali ke Chelsea untuk melatih.

Apa masalahnya Mou? Mungkin ini pertanyaan fans selama ini terus menggelayuti. Jawabannya adalah karena Mourinho adalah pelatih kelas dunia. 

Hal yang harus Anda pahami, sebagai seorang pelatih kelas dunia, mereka membuat sepak bola menjadi sebuah sistem. Bahwa sepak bola adalah mekanisme yang mempunyai konsep (karakteristik, pola, gaya permainan) yang khas sehingga bisa kita sebut sebagai filosofi. Tak sekedar menempatkan pemain terbaik di posisi terbaik. Orang yang tak memenuhi spek tentu tak akan dipakai, dan solusi pastilah dengan menjual atau tukar tambah. Bisnis.

Anda telah banyak melihat bagaimana seorang Mourinho membuat monster seperti Drogba, Barcelona membuat motor seperti Xaviesta, Conte menyulap Vidal, dan Ancelotti menempa Pirlo jadi Deep Lying Playmaker kelas wahid. Atau Arsene Wenger memboomingkan Henry dan Van Persie, serta Capello menjuarai Serie A bersama Roma dengan Totti sebagai Trequatista dibelakang Montella dan Batistuta.

Contoh perubahan yang telah dilakukan oleh Mourinho salah satunya adalah duel. Data di bawah ini menunjukkan bahwa Chelsea kini menduduki peringkat 2 dalam hal aerial duel. Hanya Stoke, tim yang anda tahu begitu beringas selama paling tidak dua tahun ini.

Top 5 Aerial Duels Won EPL season 2012/2013 vs 2013/2014 (till now, source : whoscored.com)

image

2012

image

2013

Anda harus memahami Mourinho menanamkan dalam diri pemainnya bahwa permainan bagaikan perang. Aerial duel adalah harga mati pemain yang bermain untuknya. Lihatlah pasukan Mou di manapun dia berada, selalu memiliki pemain dengan postur besar dan kuat. Drogba, Ballack, Eto’o, Thiago Motta, Sami Khedira, Pepe, adalah contoh-contoh pemain yang pernah mengecap sukses di bawah asuhan Mourinho.

Ada 3 key attacking midfielder Chelsea musim lalu. Mata, Hazard, dan Oscar (Mazacar). Namun karakteristik masing-masing pemain di bawah ini akan memperlihatkan bahwa memiliki dua pemain kunci yang minim kontribusi untuk pertahanan adalah tidak baik bagi taktik Mourinho. Hazard dan Mata adalah pemain hampir sama dengan Mata lebih matang karena umur. Dan Oscar menjadi aset tak tersentuh dengan kekuatan kontribusi pertahanan. Mendepak Mata adalah satu-satunya cara dan Anda tahu, dengan uang penjualan Mata siapa yang Mourinho dapat : Nemaja Matic. Figur defensive midfielder impian yang sejauh ini begitu memikat permainannya dengan tackle-tackle brilian. 

Fenomena Bayen

Jika anda pengamat statistik sepak bola, tentu kentara sekali transformasi Bayern Munich. Bayern adalah tim kaya yang sedang naik daun karena prestasinya setelah menggondol 5 trofi tahun 2013. Uniknya, bersama Jupp Hycknes, Toni Kroos adalah pemain kunci. Namun dengan hadirnya Pep Guardiola dan Thiago musim ini semuanya tampak menjadi sulit untuk Kroos. 

Pep Guardiola mempertahankan gaya permainan Bayern adalah omong kosong. Permainan possesion football tetap hadir di Allianz Arena. Meskipun Kroos juga merupakan jagoan passing, namun ketika Thiago sudah kembali dari cidera tentu ada opsi lebih baik untuk memainkan Thiago daripada Kroos. Lihatlah performa keduanya beberapa pertandingan ke belakang.

Apakah hal ini semata-mata adalah karena form? Tidak. Ini adalah masalah kecocokan strategi pelatih denga pemainnya. Strategi Hyncnes dulu menempatkan Kroos pada posisi Attacking Midfielder (playmaker). Sedangkan pada Pep tak ada playmaker, yang ada adalah gelandang bertahan satu dengan pemain di depannya mengisolasi pertahanan lawan. Jika dulu di Barcelona ada Sergio Busquets, di Bayern mereka mempunyai Philip Lahm yang ‘cerdas’ dan tangkas. Sedangkan empat gelandang didepannya ada adalah dua winger dan dua CM yang aktif membongkar pertahanan melalui permainan sabar dengan opsi menusuk. Mario Goetze, tadinya saya pikir akan dijadikan Messi-2 ketika dia dimainkan sebagai false 9. Namun pada strategi berikutnya, ternyata saya salah. Goetze adalah Iniesta-2. Motor Xavi-Iniesta atau Xaviesta akan lahir kembali di tubuh Munchen. Thiagotze, ya saya pikir Thiago dan Goetze akan berevolusi menjadi the next Xaviesta. 

Sekali lagi, Kroos harus menerima ketersingkirannya di Bayern. Sekali lagi karena Pep adalah pelatih kelas dunia. Dia memiliki konsep dalam otaknya. Layaknya Mata, solusi terbaik untuk Kroos mungkin adalah hengkang. Mengingat di lini tengah Munchen pun masih ada Javi Martinez dan Bastian yang juga sedang mencari jam terbang lebih tinggi. Apalagi Kroos juga bukan sosok yang mayor dicintai fans Bayern layaknya Mata. Pep Guardiola nampak akan menerima penawaran dari klub lain yang hendak memboyong Kroos, tentu dengan harga yang cocok dengan kaidah bisnis. 

Satu pelajaran dari dua pelatih terbesar abad 21 kali ini. Sepak bola adalah permainan penuh konsep. 

officialasroma:

Dear Roma fans, save this GIF and show it to your grandchildren one day! Cari tifosi, salvate questa GIF e mostratela ai vostri nipoti un giorno! #HungryForGlory